Kembali
×
Memahami Penyebab Pneumonia Pada Lansia
02 Mei 2021 04:04 WIB

Geriatri.id | Lansia Online -- Pneumonia saat ini menjadi penyakit yang semakin ramai dibicarakan karena infeksi Covid 19. Sebenarnya apa itu pneumonia? Pneumonia adalah peradangan jaringan paru, bukan saluran nafas dan buka juga penyakit pilek biasa. 

Geriatri bersama denga Pfizer menyelenggarakan webinar dengan tema Lansia dan Pneumonia: Bahaya Perlu DIcegah. Hadir sebagai pembicara adalah dr. Vera Sp.PD K-Ger, Konsultan Geriatri yang tinggal di Bandung. 

Dalam webinar yang berlangsung Sabtu 01/05/2021, dr. Vera membicarakan tentang pneumonia pada lansia, gejala dan pencegahannya. Pneumonia biasanya ditandai dengan sesak nafas, akibat dari infeksi jaringan paru yang terdapat di saluran  nafas bagian bawah. Infeksi ini menyebabkan rongga-rongga jaringan paru atau alveoli terisi sel radang dan dahak yang kental.

Gejala pneumonia berbeda pada orang dewasa muda dan lansia. Untuk dewasa muda, gejala pneumonia biasanya ditandai dengan demam, batuk berdahak, nyeri dada dan sesak nafas. Sementara pada lansia, gejalanya tidak khas, bisa berupa tidak mau makan, karena kurang enak badan dan mulut pahit. Bisa juga lansia menjadi bingung apa yang dirasa, diajak bicara tidak nyambung atau terjatuh. 

Bahkan pada lansia, pneumonia ini bisa saja tidak disertai demam dan gejala batuk. Akibatnya, sering terjadi gagal nafas karena dahak tidak bisa keluar. Gagal nafas ini pada akhirnya bisa mengakibatkan terapi oksigen dari mulai memakai selang oksigen di hidung sampai dengan menggunakan mesin untuk mendorong oksigen. Dan gagal nafas ini  bisa menimbulkan kematian pada pasien pneumonia.

Selain itu adanya penurunan status fungsional atau kemandirian oma opa. Kalau biasanya dalam kondisi tidak sakit badan bugar, namun ketika sering sakit jadi tergantung pada orang lain dari aktifitas berdiri duduk dan jalan harus dibantu. Lansia yang terkena pneumonia yang tadinya jalan pakai tongkat, jd turun menggunakan kursi roda, sampai akhirnya tirah baring. 

Pneumonia juga bisa memengaruhi finasial keluarga karena meningkatnya biaya perawatan. Seringkali pasien yang baru keluar dari ICU, pipa tidak bisa segera dicabut karena dahak tidak bisa keluar. Penyedotan harus dilakukan melalui selang dan bisa dilakukan 20 menit sekali. Belum lagi tambahan selang untuk makan dan selang harus diganti sesering mungkin. Akibantya jadi tambahan biaya.

Meskipun risiko pneumonia ini tidak semua lansia bisa kena, ada beberapa faktor yang menjadi pemicunya. Lansia dengan penyakit kronis banyak, ginjal, paru, penyakit kronik obstructive menahun hipertensi, gula, jantung makin tinggi risiko kena pneumonia. Oma opa yang merokok, immobilisasi atau tirah baring lama, lebih banyak di tempat tidur juga bisa kena. 

Oleh sebab itu, penyakit kronik degenerative seperti hipertensi, gula darah, asma bronchial harus dikendalikan. Sebab jika tidak terkendali resiko komplikasi akan banyak, kalau terkendali resiko komplikasi minimal. DItambah jika bisa dikendalikan, maka risiko kecacatan minimal dan kemandirian dapat dipertahankan.

Penderita gula darah dan tekanan darah tinggi yang tidak terkendali bisa menyebabkan stroke. Akibatnya, kadang-kadang terjadi gangguan fungsi menelan, tersedak saat minum, bagian yang tersedak masuk ke paru-paru dan terjadi pneumonia. Atau stroke ditambah Parkinson bisa menyebabkan kesulitan bergerak, menyebabkan dahak tertimbun di paru-paru dan bisa jadi infeksi.

Penyakit kronik pada lansia juga bisa menyebabkan daya tahan tubuh rendah, karena gizinya kurang dan mengkonsumi obat. Daya tahan tubuh rendah juga bisa terjadi karena tidak menjaga kebersihan mulut. Meskipun banyak lansia yang mungkin sudah tidak memiliki gigi, namun mulut kotor tetap harus dibersihkan. Kenapa? karena meski tidak ada gigi, di dalam mulut masih ada lidah, gusi dan sisa akar gigi, kalau tidak dibersihkan akan menjadi kotor. 

Lalu bagaimana mencegah pneumonia? Selain melakukan vaksin Pneumococcus dan Flu, faktor resiko penyakit kronik degenerative harus dikendalikan dengan cara minum obat rutin dan kontrol teratur. Oma Opa baiknya mengikuti saran dari dokter, seperti harus berolahraga, jemur matahari, makan sayur, minum vitamin. 

Cara lainnya adalah dengan tetap beraktivitas dan jangan banyak diam. Karena kalau tidak pernah latihan fisik, kondisi tidak baik, akibarnya paru-paru tidak sehat. Lakukan olahraga rutin setiap hari meskipun sudah tidak bisa berjalan. Banyak cara untuk tetap bisa melakukan olahraga sambil tiduran atau tirah baring. Olahraga khusus segala jenis baik, olahraga yang bisa dilakukan oma opa, berenang, jalan, sepeda statis, yang penting adalah konsistensi.

Perhatikan kondisi makanan untuk lansia, makan-makanan yang bergizi. Tentu saja harus memerhatikan kondisi gigi dari Oma Opa. Perbanyak konsumsi sayur dan buah, ikan, telur dan susu, sumber protein penting. Jangan lupa harus diberi garam dapur, supaya garam tidak melorot di dalam darah, jangan garam impor. (Dewi Retno untuk Geriatri.id)

 

Artikel Lainnya
Artikel
17 Mei 2021 19:18 Wib
Artikel
17 Mei 2021 06:11 Wib
Tags
Lansia
Lansia Online
Pneumonia
dr Vera
Geriatri
Pfizer
Covid-19