Kembali
×
Alasan Lansia Perlu Segera Divaksinasi Covid-19
12 April 2021 06:19 WIB

Geriatri.id--Lansia masih menjadi orang yang memiliki risiko tinggi kematian pada pasien penderita Covid-19. Menurut data terakhir dari satgas Covid-19 sebanyak 48% jumlah kematian pada kasus Covid-19 adalah mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Dalam acara webinar yang diselanggarakan oleh Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI), Minggu 11/04/2021, dr. Lazuardhi Dwipa SpPD.,K-Ger hadir sebagai pembicara. Untuk sesi kali ini ia membahas Peran Nutrisi dan Aktivitas Fisik untuk Meningkatkan Respon Lansia terhadap Vaksin Covid-19.

Rangkaian webinar bertajuk Pergemi untuk Negeri berlangsung setiap pekan sejak bulan Maret hingga Mei 2021 melalui aplikasi daring zoom. Pendaftaran dengan mengisi formulir di www.bit.ly/webinarPERGEMI2021. Tautan akan disampaikan melalui email atau whatsapp sesuai dengan data di pendaftaran.

Menurut dr. Lazuardhi, penting bagi lansia untuk menerima vaksin Covid-19, karena lansia memiliki kemungkinan infeksi lebih besar dibandingkan yang muda. Selain itu, jika sampai terpapar, lansia memiliki gejala yang lebih berat dan kematian yg lebih tinggi. Menurut data dari CDC 8 dari 10 orang meninggal adalah mereka yang di atas 65 tahun. 

Lebih jauh, ia memaparkan, masalah kesehatan pada lansia itu sifatnya multidimensional. Lansia dikatakan sehat, jika secara biologis, fisik dan mental sehat. Selain itu fungsi intelektual, kognitif, dan sosialnya baik, juga finansial ekonomi dan dukungan secara sosial. Dan untuk mengetahui semua itu harus dilakukan pendekatan yang bersifat komprehensif atau menyeluruh.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknis penyaringan yang disebut dengan RAPUH (Resistensi, Aktifitas, Penyakit Kronik, Usaha Berjalan dan Hilangnya Berat Badan). Jika nilai RAPUH ini lebih dari 3, maka lansia tidak bisa menerima atau tidak disarankan untuk divaksin. Pemeriksaan ini tentu saja harus dilakukan di poliklinik, rumah sakit atau dokter konsultan geriatri.

dr. Lazuardhi memberikan penjelasan sederhana, tingkat kerentaan atau kerapuhan ini menentukan efektivitas vaksin pada lansia. Sementara vaksin menjadi salah satu upaya mengatasi pandemi selain protokol kesehatan. Sehingga ada faktort-faktor yang harus diperhatikan untuk lansia bisa menerima vaksin, diantaranya usia, banyakanya komorbid, polifarmasi (konsumsi banyak obat), malnutrisi dan aktfitas fisik yang rendah.

Memperbaiki nutrisi pada lansia salah satu caranya adalah dengan mengoptimalisasi asupan protein dan supplementasi gizi. Menurut dr. Lazuardhi, protein penting karena bisa mempertahankan dan meningkatkan massa otot. Bagi mereka yang berusia di atas 65 tahun, harus mengkonsumi protein lebih dari 1gr/kg BB tiap hari.  Konsumsi ini bisa lebih, tergantung pada derajat penyakit yang diderita si lansia.

Lebih jauh, ia juga menyebutkan kategori makanan sehat, yang terdiri dari: ¼ karbohidart, ¼ protein, ½ sayur-sayuran dan buah-buahan. Lansia dianjurkan untuk makan sayur dan buah yang banyak, karena ada zat anti oksidan yang fungsinya mentralisir efek racun akibat dari radikal bebas. Selain itu sayur dan buah mengandung serat yang tinggi, bisa membantu orang lansia buang air besar dan mencegah konstipasi.

Bagaimana dengan lansia yang mengalami masalah nafsu makan, pengunyahan, penelanan, gampang kenyang dan banyak minum obat? Untuk lansia yang mengalami msalah seperti ini, dr. Lazuardhi menyarankan untuk pemberian oral nutrisional suplemen. Yaitu, makanan bentuk cair tapi tinggi kalori dan protein dan tentu saja diberikan sesuai petunjuk ahlinya.

Selain masalah nutrisi, yang juga harus diperhatikan lansia yang akan menerima vaksin adalah meningkatkan aktifitas. Lansia yang jarang melakukan aktifitas akan mengalami sarcopenia, menurunnya masa otot akibat kurang beraktifitas. dr. Lazuuardhi, menyarankan olahraga dengan intensitas ringan dan sedang untuk dilakukan oleh lansia.

Lebih jauh ia menjelaskan olahraga intensitas ringan yang dimaksud adalah jika saat olahraga masih bisa bernyanyi dan berbicara. Sementara olahraga intensitas sedang, saat berolahraga masih bisa berbicara. Jenis-jenis olahraganya bisa berupa olahraga yang melatih kekuatan otot seperti taichi, senam lansia dan senam osteoporosis. Atau olahraga untuk penguatan jantung seperti jalan kaki, berenang dan yang melatih kelenturan seperti yoga. 

Berapa lama lansia perlu melakukan gerak badan ini, dr. Lazuardhi menyebutkan 30 menit/hari atau 150 menit/minggu atau 10.000 langkah sudah cukup bagi lansia. 

Sementara untuk lansia yang masuk kategori renta atau rapuh, dr. Lazuardhi tidak menyarankan untuk dilakukan vaksin. Karena pada usia lanjut apalagi pasien renta terjadi penurunan kekebalan tubuh dimana respon imunnya lambat. Sehingga untuk mereka yang dikategorikan renta berat mau divaksin atau tidak sedikit sekali perbedaan.

Selain itu belum adanya penelitian yang menyebutkan vaksin aman buat lansia renta juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Tentu saja bagi mereka yang tidak disarankan untuk menerima vaksin maka perlu meperbaiki nutrisi, mengendalikan penyakit penyerta, polifarmasi atau mengurangi minum obat yang tidak perlu dan meningkatkan aktifitas. (Dewi Retno untuk Geriatri.id)

Artikel Lainnya
Artikel
17 Mei 2021 19:18 Wib
Artikel
17 Mei 2021 06:11 Wib
Tags
Lansia
Vaksinasi
Pergemi
Covid-19
Lazuardhi Dwipa
Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia
Nutrisi
Pergemi Untuk Negeri