Kembali
×
Vaksinasi Lansia, Apa yang Perlu Diperhatikan?
22 Februari 2021 06:49 WIB

Geriatri.id--Vaksinasi COVID-19 terus berlangsung dan masuk pada tahap kedua bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan petugas pelayanan publik, termasuk tenaga kesehatan. Dalam melaksanakan vaksinasi terhadap lansia itu, perlu banyak faktor yang harus diperhatikan. 

Tenaga kesehatan dan lansia merupakan populasi berisiko tinggi tertular virus Covid-19. Dr. dr. Kuntjoro Harimurti, Sp.PD-KGer, MSc dari Ketua Divisi Geriatri, KSM/Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi masyarakat, terutama yang berisiko tinggi seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, serta testing, tracing dan treat

“Vaksinasi juga sebagai salah satu upaya mengatasi pandemi Covid-19,” kata  dr. Kuntjoro dalam webinar Lansia Online yang diselenggarakan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) dan Geriatri.id, Minggu (21/2/2021). Webinar bertajuk bertajuk Vaksinasi Nakes dan Lansia: Risiko dan Mitigasinya ini dipandu oleh  dr Anastasia Asylia Dinakrisma, SpPD.

(#LansiaOnline merupakan program yang digelar geriatri.id yang mengulas berbagai tema terkait lansia bersama para ahli yang dapat disaksikan di Facebook dan YouTube gratis. Oma opa bisa bergabung dengan grup WA Geriatri dengan menghubungi 08111379101 atau klik https://s.id/WAGeriatri)

Vaksinasi bertujuan menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Kuntjoro mengatakan pemberian vaksin pada lansia sudah direkomendasikan untuk berbagai penyakit infeksi yang dapat dicegah oleh vaksin dan berdampak besar pada lansia.

Pada lansia, ada beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan dan mempengaruhi keefektifan vaksinasi. Pada usia yang sangat lanjut terjadi perubahan fungsi organ dan sistem tubuh akibat proses menua (termasuk sistem imun/immunosenesens). Lansia juga kerap memiliki penyakit penyerta atau  komorbid dan tidak terkontrol.

Faktor lain yang mempengaruhi keefektivan vaksin terhadap lansia adalah polifarmasi (konsumsi banyak obat), malnutrisi  baik kekurangan gizi maupun gizi lebih (obesitas), serta aktivitas fisik yang rendah dan mobilitas yang menurun.

“Kondisi tiga terakhir itu  disebut frality atau kerentaan,” kata Kuntjoro yang juga Anggota Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). “Upaya persiapan vaksinasi COVID-19 pada lansia dapat dilakukan dengan memperhatikan berbagai komponen kerentaan/frailty”.

Frailty adalah kondisi klinis di mana terdapat peningkatan kerentanan lansia untuk timbulnya ketergantungan dan/atau kematian ketika terpapar terhadap stressor. Kerentaan merupakan suatu proses yang sejalan dengan menurunnya kapasitas fungsi tubuh pada proses menua.

Lansia yang renta mudah mengalami sakit hanya dengan stresor yang ringan sakitnya dapat menjadi berat dan dirawat serta berisiko meninggal.

Dalam menghadapi vaksinasi lansia ini, ada dua hal yang menjadi sasaran yaitu  meminimalkan risiko efek samping / KIPI sekaligus memaksimalkan manfaat vaksi terhadap lansia. Jadi sebelum divaksin oma dan opa perlu memperhatikan kondisi tubuhnya.

1. Memperhatikan dan mengendalikan penyakit komorbid.
2. Menghindari polifarmasi (minum obat banyak/tidak perlu),
3. Mencegah atau memperbaiki kondisi malnutrisi,
4. Menjaga dan meningkatkan kebugaran,
5. Menghindari stress psikis,
6. Meningkatkan aktivitas/mobilitas.

Selengkapnya, simak tayangan videonya:
 

 

Artikel Lainnya
Artikel
04 Maret 2021 06:14 Wib
Artikel
01 Maret 2021 06:01 Wib
Tags
Lansia
dr kuntjoro
vaksin
covid-19
lansia online
geriatri
lansia sehat
lansia bahagia
merawat lansia
berita lansia