Kembali
×
Lansia Renta dan Vaksin Covid-19, Berkaca dari Kasus di Norwegia
18 Januari 2021 05:56 WIB

Geriatri.id--Setidaknya 23 orang yang menerima suntikan vaksin Covid-19  meninggal di Norwegia. Otoritas Kesehatan Nowegia mengungkapkan 13 lansia telah diotopsi dan diperkirakan karena efek samping setelah mendapat vaksin Pfizer/BioNTech. 

“Itulah mengapa vaksin pada lansia perlu ditelaah lebih lanjut,” kata  Prof. Dr. dr Siti Setiati, SpPD, K-Ger, M.Epid dalam acara Lansia Online bertajuk Serba-Serbi Vaksin Covid-19 pada Lansia, Minggu 17/1/2021. Lansia Online rutin digelar Persatuan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) bersama Geriatri.id setiap pekannya. Tayangan acara ini bisa dilihat di Facebook dan YouTube, silahkan ikuti dan subscribe.

Lansia yang meninggal di Norwegia diketahui mengalami kerentaan (frailty).  Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia menyatakan bahwa lansia dengan kerentaan yang sangat berat, efek samping yang ringan pun dapat mengakibatkan konsekuensi serius. Bagi lansia dengan angka harapan hidup yang sangat pendek, pemberian vaksin mungkin tidak relevan.

Dalam dunia medis, kata Siti, dikenal dengan istilah immunosenescence pada lansia. Immunosenescence berhubungan dengan respons terhadap vaksin yang kurang maksimal. Pada lansia, biasanya sudah terjadi inflamasi kronis level rendah akibat dari kombinasi penurunan imunitas tubuh, terutama lansia dengan frailty.

“Vaksin terhadap lansia memang penting untuk mencegah penularan Covid-19, tetapi sangat penting juga untuk memastikan vaksin bekerja efektif terhadap lansia,” kata Siti yang juga Ketua Pergemi dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Siti mengatakan lansia atau keluarga yang memiliki lansia harus tenang dalam menanggapi kasus di Norwegia. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan kematian lansia di Norwegia. Bisa jadi, kata Siti, kejadian kematian itu sebagai koinsiden. 

Untuk diketahui, terdapat 400 kematian lansia yang tinggal di panti di Norwegia setiap pekan yang tidak berhubungan dengan vaksin. "Tidak ada studi yang membuktikan bahwa vaksinCOVID-19 menyebabkan kematian," kata Siti. "Vaksin sudah terbukti membantu pemberantasan penyakit menular, termasuk di Indonesia."

(Simak tayangan Serba-Serbi Vaksin Covid-19 pada Lansia)

Vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah dimulai pada Rabu (13/1/2021) menggunakan vaksin produksi Sinovac. Vaksin Sinovac baru dujicobakan di Indonesia terhadap orang berusia 18-59 tahun. Uji klinis Sinovac terhadap lansia sebenarnya sedang dilakukan di Turki dan Brasil. "Saya menunggu jurnal penelitian di Brazil dan Turki sehingga Evidence base-nya ada," kata Siti.

Kelompok lanjut usia akan mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 pada Maret-April 2021. Lansia kemungkinan bakal disuntik dengan vaksin Pfizer atau AstraZeneca.

Profesor Siti mengatakan lansia dengan frailty di Indonesia bisa jadi tidak perlu mendapat vaksin karena respons tubuhnya tidak akan maksimal. Sampai saat ini, belum ada bukti tentang dampak frailty terhadap efikasi vaksin COVID-19. Tetapi, penelitian vaksin influenza trivalent untuk lansia 65 tahun ke atas bisa menjadi rujukan. Keampuhan vaksin influenza menurun dengan meningkatnya frailty.

Frailty adalah keadaan klinis di mana terdapat peningkatan kerentanan terhadap ketergantungan dan/atau kematian apabila terdapat stressor. Dari sekitra 25 juta lansia, Siti mengatakan hanya 13,2 persen lansia di Indonesia berada dalam kategori robust/fit atau sehat tanpa komorbiditas. Sedangkan 61,6 persen lansia berada pada kategori prefrail, artinya dengan komorbiditas yang terkontrol. Dan 25,2 persen lansia berada dalam kategori frail, mereka membutuhkan bantuan untuk hidup sehari-hari.

Kerentaan adalah suatu spektrum yang reversible atau bisa pulih menjadi pra-renta dan sehat. Kalau sudah masuk kategori sehat, lansia boleh jadi bisa mendapatkan vaksin Covid-19.

Siti mengatakan Badan POM harus memastikan manfaat dan keamanan vaksin pada populasi lansia, terutama lansia renta. Sedangkan dokter dan peneliti harus memastikan status kerentaan setiap lansia di Indonesia. Status kerentaan itu dapat menggunakan tools cepat yang umum digunakan sesuai anjuran The Asia-Pacific Clinical Practice Guideline for the Management of Frailty: FRAIL scale. 

Lalu, bagaimana melindungi lansia dengan frailty? Kuncinya adalah sukses vaksinasi massal sehingga menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity. Ketika orang lebih muda dan lansia yang sehat sudah mendapat vaksin, diharapkan dapat melindungi lansia renta.

“Jadi, vaksinasi tujuannya bukan hanya diri sendiri, tetapi tujuan mulia untuk melindungi orang lain. Melindungi orang yang sudah renta seperti demensia dan orang-orang yang tidak mempunyai kesempatan mendapatkan vaksin,” kata Siti. (ymr)

Baca juga:
Lansia Akan Divaksin Pada Maret-April
Opa-Oma, Yuk Kita Pahami Apa Itu Efikasi Vaksin
BPPOM Terbitkan Izin Darurat Penggunaan Vaksin COVID-19 Sinovac
MUI Tetapkan Vaksin Covid-19 Sinovac Halal dan Suci

Artikel Lainnya
Artikel
04 Maret 2021 06:14 Wib
Artikel
01 Maret 2021 06:01 Wib
Tags
lansia
prof ati
covid19
vaksin
vaksin covid19
vaksinasi
Siti Setiati
geriatri
lansia sehat
lansia bahagia
berita lansia
merawat lansia
lansia online
Pergemi