Kembali
×
Opa-Oma, Yuk Kita Pahami Apa Itu Efikasi Vaksin
16 Januari 2021 05:58 WIB

Geriatri.id - Program vaksinasi untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia telah dilakukan. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang divaksinasi, pada Rabu, 13 Januari kemarin.

Meski demikian, masih banyak juga masyarakat yang ragu, khususnya terkait masalah evikasi vaksi SinoVac yang menurut hasil uji BPOM hanya mencapai 65,3%. Nah sebelum opa-oma bingung dan ragu, yuk kita ketahui dulu apa sih efikasi vaksin itu? 

Menurut dr. Indra K. Muhtadi, dokter dari Unpad, Bandung yang juga seorang health influencer, efikasi adalah kemanjuran/kemampuan sebuah vaksin membuat benteng pertahanan pada komunitas, di mana terdapat kekebalan pada sekelompok orang dalam komunitas tersebut. 

Nah, menurut dr. Indra, vaksin dengan efikasi 65,3% dalam uji klinik dengan kondisi terkontrol, artinya terjadi penurunan 65,3% kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi (atau placebo).

"Jadi yang menentukan efikasi vaksin pada uji klinis adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak," ujar penulis buku Sehat untuk Hebat ini kepada Geriatri.id.

Jadi misalnya pada interim report uji klinik Sinovac di Bandung hasil dari 540 orang relawan, terdapat 270 relawan disuntik vaksin, dan 270 relawan disuntik placebo. Maka angka 65,3% berarti 7 orang pada kelompok divaksin tetap terinfeksi (2,59%), sedangkan dari kelompok placebo ada 20 orang yang terinfeksi (7,41%).

dr. Indra menjelaskan, efikasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, misal dari tingkat risiko infeksi tempat uji,  karakteristik relawannya, pola kesehatan masyarakat, dan lain-lain. "Jika relawannya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat," ujarnya. 

Ini yang terjadi di Turki yang menggunakan lebih banyak tenaga medis dan dokter sebagai relawan uji klinisnya, dibandingkan dengan Indonesia yang menggunakan masyarakat umum di Bandung dengan resiko paparan lebih rendah. "Kita tahu kelompok tenaga medis adalah kelompok beresiko tinggi," kata dr. Indra. 

Bila misalnya uji klinis di Bandung disamakan modelnya seperti Turki, (menggunakan banyak tenaga medis juga), maka dari 570 orang hitungannya bisa menjadi kelompok vaksin tetap ada 7 yang terinfeksi, sedangkan kelompok placebo akan bertambah menjadi 82 yang terinfeksi. Dengan demikian, maka efikasinya menjadi sekitar 91,5%.

Sebaliknya bila uji klinis dilakukan pada kelompok masyarakat dengan kepatuhan yang tinggi terhadap protokol kesehatan seperti di Jepang atau China misalnya, maka efikasi yang didapatkan bisa rendah. "Katakanlah pada model di atas misal pada kelompok vaksin tetap ada 7 yang terinfeksi, sedangkan di kelompok placebo hanya 10 orang saja karena menjaga protokol kesehatan dengan ketat, maka efikasi vaksin bisa hanya menjadi 30% saja," kata dokter lulusan FK Unpad itu.

Penurunan kejadian infeksi sebesar 65,3% secara populasi tentu akan tetap sangat bermakna dan memiliki dampak panjang yang baik. Katakanlah dari 270 juta penduduk Indonesia terjadi paparan 12% (seperti rata-rata dunia), jika tanpa vaksinasi akan ada 32,4 juta yang terinfeksi. 

Maka jika program vaksinasi berhasil dengan efikasi 65,3%, berarti hanya 11,232 juta (4,16%) yang akan terinfeksi. Ini artinya akan ada 21,168 juta kejadian infeksi yang dapat dicegah. 

Mencegah lebih dari 21 juta kejadian infeksi tentu akan sudah sangat bermakna. Bayangkan berapa banyak kematian yang dapat dicegah, berapa banyak tenaga medis yang tidak harus meninggal, dan mungkin kita bisa mulai mengurangi WFH, serta anak-anak bisa bersekolah tatap muka kembali," papar dr. Indra.

Jadi efikasi 65,3% tidak usah membuat kita kecewa, karena angka ini akan bisa naik pada vaksinasi masal bila semua bisa disiplin setelah vaksinasi," tambahnya. 

Jelas dari hitung-hitungan di atas angka efikasi bisa naik bila semua yang sudah mendapatkan vaksinasi bisa menjaga agar tidak tertular sampai dengan 2 minggu setelah suntikan kedua, yaitu sampai kekebalan itu terbentuk. 

Apalagi CoronaVac ini memiliki imunogenisitas yang tinggi, bahkan sampai > 99% dapat memicu kekebalan orang yang divaksin. "Artinya Anda yang divaksin, hampir pasti mendapatkan kekebalan yang kita harapkan," pungkasnya. (mag)

*Foto Pixabay

Artikel Lainnya
Artikel
04 Maret 2021 06:14 Wib
Artikel
01 Maret 2021 06:01 Wib
Tags
vaksinasi
vaksin covid19
covid19
lansia
Efikasi
sinovac
dr indra k muhtadi
geriatri
lansia sehat
lansia bahagia
merawat lansia
berita lansia
lansia online