Kembali
×
Tidur Dapat Memperkirakan Serangan Alzheimer
04 September 2020 07:17 WIB

Geriatri.id--Berbagai penelitian sudah menyatakan bahwa kualitas tidur berkaitan erat dengan penyakit Alzheimer. Tapi yang belum pernah diuji sebelumnya adalah apakah tidur Anda saat ini memprediksi apa yang akan terjadi bertahun-tahun kemudian.

Penelitian terbaru dari Universitas California, Berkeley (UC Berkeley) menyebutkan bahwa kualitas tidur sebagai penanda dan memprediksi penyakit di masa mendatang. Ahli saraf Matthew Walker dan Joseph Winer telah menemukan cara untuk memperkirakan Alzheimer paling mungkin menyerang dalam hidup seseorang.

“Kami telah menemukan bahwa tidur Anda saat ini hampir seperti bola kristal yang memberi tahu Anda kapan dan seberapa cepat Alzheimer akan berkembang di otak Anda,” kata Walker, profesor psikologi dan ilmu saraf UC Berkeley dan penulis senior dari makalah yang diterbitkan 3 September, dalam jurnal Current Biology.

Walker dan rekannya mencocokkan kualitas tidur 32 orang setengah baya yang sehat dengan penumpukan di otak mereka dari plak beracun yang dikenal sebagai beta-amiloid. Plak beracun ini menghancurkan jalur memori dan fungsi otak sehingga muncul Alzheimer. 

Alzheimer adalah penyakit yang ditandai dengan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir dan berbicara. Tidur biasanya menjadi hal yang sangat penting bagi kesehatan. Pada saat tidur, biasanya otak memperbaiki sel-selnya yang sudah bekerja selama satu hari penuh. Saat seseorang kekurangan waktu tidur, perbaikan pada otak tidak terbentuk dengan sempurna, sehingga memungkinkan muncul plak-plak yang menyebabkan penyakit alzheimer ini.

Peneliti mengundang 32 peserta berusia 60-an, 70-an, dan 80-an yang sehat. Untuk eksperimen tersebut, setiap peserta menghabiskan delapan jam tidur malam di lab Walker sambil menjalani polisomnografi, serangkaian tes yang merekam gelombang otak, detak jantung, kadar oksigen dalam darah, dan ukuran fisiologis kualitas tidur lainnya.

Selama studi multi-tahun, para peneliti secara berkala melacak tingkat pertumbuhan protein beta-amiloid di otak peserta menggunakan tomografi emisi positron, atau pemindaian PET, dan membandingkan tingkat beta-amiloid individu dengan profil tidur mereka. 

Hasilnya mendukung hipotesis mereka bahwa kualitas tidur adalah penanda biomarker dan prediktor penyakit di masa mendatang.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa orang yang sering terjaga dari tidurnya (tidur terfragmentasi) dan tidur ayam ( NREM/Non-Rapid Eye Movement) menunjukkan peningkatan beta-amiloid selama penelitian.

Meskipun semua peserta tetap sehat selama masa penelitian, pertumbuhan beta-amiloid berkorelasi dengan kualitas tidur awal. Para peneliti meramalkan peningkatan plak beta-amiloid, yang dianggap menandai awal dari Alzheimer.

“Kami dapat menilai bagaimana kualitas tidur memprediksi perubahan pada plak beta-amiloid di beberapa titik waktu. Dengan melakukan itu, kami dapat mengukur seberapa cepat protein beracun ini terakumulasi di otak dari waktu ke waktu, yang dapat mengindikasikan awal penyakit Alzheimer, "kata Winer, penulis utama studi ini dan peraih Ph.D. di Walker's Center for Human Sleep Science UC Berkeley.

Winer menyatakan tidur nyenak dapat memperlambat penyakit ini sehingga dijadikan sebagai prioritas utama. “Dan jika dokter mengetahui tentang hubungan ini, mereka dapat menanyakan pasien yang lebih tua tentang kualitas tidur mereka dan menyarankan tidur sebagai strategi pencegahan,” kata Winer.

Adapun langkah selanjutnya, Walker dan Winer melihat bagaimana mereka dapat membawa peserta studi yang berisiko tinggi mengalami Alzheimer dan menerapkan metode yang dapat meningkatkan kualitas tidur mereka.

“Harapan kami adalah melalui intervensi, maka dalam tiga atau empat tahun penumpukan tidak lagi seperti yang kami kira karena meningkatkan kualitas tidur,” kata Winer. “Memang, jika kita bisa menurunkan risiko Alzheimer dengan meningkatkan kualitas tidur, itu akan menjadi kemajuan yang signifikan dan penuh harapan.” (ymr)

*Foto Pixabay

Artikel Lainnya
Artikel
26 September 2020 06:40 Wib
Artikel
25 September 2020 23:37 Wib
Artikel
25 September 2020 11:00 Wib
Artikel
24 September 2020 09:20 Wib
Tags
lansia
alzheimer