Kembali
×
Kiat Lansia Hindari Kesepian di Saat Idul Fitri
25 Mei 2020 05:38 WIB

Geriatri.id - Di Hari Raya idul Fitri ini, tak semua lansia beruntung bisa berkumpul dengan keluarga mereka baik itu anak, maupun perawatnya. Kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, membuat banyak keluarga yang hidup terpisah dengan orang tua mereka, terpaksa tak bisa berkumpul dengan alasan kesehatan. Kondisi demikian rentan membuat lansia merasa kesepian. 

Bagaimana mengatasinya? Psikolog yang juga mantan perwira tinggi TNI Brigjen TNI (Purn.) Irwan Amrun, M.Psi mengatakan, dalam kondisi seperti ini, lansia sebaiknya tidak larut dalam perasaan sedih dan kesepiannya. Justru pada momen seperti ini, lansia bisa memanfaatkan waktunya untuk merefleksikan diri, mengingat hal-hal yang kurang baik yang dilakukan selama masa normal dan bertekad memperbaikinya ketika situasi kembali pulih.

"Misalnya, lansia yang punya asisten rumah tangga, pas ada asisten, selalu dimarahi. Nah sekarang, pas nggak ada kan merasa kehilangan. Pada kondisi ini, introspeksi diri kita akan memberikan suatu kesadaran," kata Irwan, kepada Geriatri.id.

Penulis buku "Milikilah Mental Pemenang" itu mengatakan, sebaliknya, pada momen seperti ini, anak-anak juga harus melakukan refleksi yang sama terkait bagaimana mereka selama ini memperlakukan orang tua mereka. "Mungkin ada sebagian dari anak-anak yang sudah cuek sama orang tua, bisa jadi pada kesempatan ini dia bisa merasa kehilangan," tambahnya. 

"Pada prinsipnya di kesadaran fenomenologis kan begitu ya. Kita menjadi sadar ketika suatu itu hilang. Misalnya matahari, kita baru sadar (ada matahari) kalau matahari hilang," tambahnya.

Irwan menjelaskan, apa yang terjadi saat ini, bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi begitu saja. "Saya sangat meyakini, tidak ada daun jatuh tanpa koordinat. Semua tidak ada accident, semua suatu skenario. Bagaimana kita menghadapi skenario seperti ini? Ini kan skenario Tuhan. Ini pasti merupakan suatu kebaikan," tegasnya. 

Karena itu, mengingat kembali diri kita masing-masing, merumuskan hakekat hidup, tujuan hidup, bisa membawa semangat yang positif bagi lansia, dalam mengisi hari-hari dimana tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Hari-hari tak bisa bertemu anak, keluarga, pengasuh bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang berguna bagi banyak orang.

"Saya merumuskannya seperti yang spiritual, agama, bermanfaat bagi orang banyak, bisa memberi. Kalau punya ilmu bisa berbagi, punya uang bisa berbagi, tenaga, senyuman," jelasnya.

Lansia juga bisa merefleksikan diri untuk menemukan kembali passion-nya dalam hidup. "Misalnya, passion-nya memberikan pelatihan, seminar, karena ketemu orang hebat, penting, belajar terus. Maka di dia bisa misalnya bikin webinar, bikin diskusi, meski secara online," jelasnya. 

Yang terpenting, lansia harus mampu memaknai kembali hakikat jati diri, menemukan apa hal yang paling bermakna dari dirinya bagi orang lain. "Kontribusi apa yang bisa saya berikan? Kompetensi saya apa? Potensi saya apa? Temukan passion saya apa, masa sih cuma satu saja? Banyak bersyukur ini adalah skenario yang terbaik," tegas Irwan.

Setelah, itu, lansia juga harus melakukan filtering informasi, untuk menghindari informasi-informasi yang bisa menimbulkan kecemasan, kemarahan dan situasi putus asa. "Apa yang dilihat yang didengar, harus difilter, karena itu bisa jadi toxic," pungkasnya. (mag)

foto: ilustrasi dialog (pixabay)

Artikel Lainnya
Artikel
08 Juli 2020 07:04 Wib
Artikel
07 Juli 2020 19:10 Wib
Tags
lansia
lansia sehat
merawat lansia
geriatri
lansia kesepian
idul fitri
covid 19