Kembali
×
Apa Yang Harus DIperhatikan Saat Melakukan Isolasi Mandiri?
05 Juli 2021 07:29 WIB

Geriatri.id--Angka positif Covid-19 di Indoesia belakangan terus meningkat. Hal ini disebabkan karena pelaksanaan prokes abai, adanya varian baru dan cakupan vaksinasi semasih dikit. Sejak 20 juni 2021, BOR rata-rata di atas 90% di 24 kabupaten, DKI, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), mengadakan webinar dengan tema Isolasi Mandiri Pasien COVID-19 untuk Awam. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. dr. Erlina Burhan MSc Sp.P (K) membahas tentang Apa Yang Harus DIperhatikan Saat Melakukan Isolasi Mandiri.

Menurut dr. Erlina, peningkatan ini juga karena banyak yang lupa ada titik-titik lengah yang merupakan potensi penularan. Salah satu contoh adalah pada saat makan bersama, kesalahan yang dilakukan saat makan berbincang-bincang, tertawa-tertawa. “Potensi terjadi penularan,” ujar dr. Erlina.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah adanya varian baru yang masuk dalam kategori variant of concern. Virus Covid ini virus yang sifatnya bermutasi, virus mengalami perubahan susunan materi genetiknya. Karakteristiknya lebih bersifat menular, lebih mematikan dan menurunkan efektifitas dari vaksin.

Kemampuan varian baru yang disebut dengan varian Delta ini mempunyai kemampuan transmisi sangat tinggi. Varian delta juga punya kemampuan bisa mengelabui sistem imun. “Jadi anak muda yang tidak punya komorbid dan anak-anak juga bisa kena,” ujarnya.

Varian delta, penularannya biasanya dikatikan dengan penularan di rumah tangga. Sekitar 60% lebih tinggi dari penularan lainnya. Karena banyak yang sakit, jadi memerlukan perawatan di rumah sakit. Gejalanya lebih ke flu yang berat, sakit kepala, demam, batuk pilek dan bersin-bersin. 

Tes PCR perlu dilakukan untuk mengetahui apakah positif atau tidak. Atau jika melakukan kontak erat dengan pasien. Yang dimaksud dengan kontak erat di sini adalah: tatap muka dengan orang yang positif selama 15 menit atau lebih, bersentuhan fisik, salaman, berpelukan, pendamping atau tenaga kesehatan yang melakukan perawatan pasien covid tanpa APD.

Jika sudah dinyatakan positif Covid-19, isolasi mandiri bisa dilakukan walaupun tanpa gejala atau bergejala dan tidak sesak.  Mengapa harus isolasi mandiri? Tujuannya memutus mata rantai penularan, supaya kalau teman-teman di kantor atau tempat lain tidak tertular. “Tidak dibolehkan isolasi mandiri, kalau anda sesak nafas,” himbau dr. Erlina.

Anda dapat melakukan isolasi mandiri bila di rumah ada ruang sendiri. Tidak serumah dengan anggota keluarga yang punya resiko tinggi, lansia, bayi atau punya imun rendah. Lalu berapa lama baiknya isolasi dilakukan, aturannya: 10 hari + 3 hari tanpa gejala.

Seperti yang dijelaskan di atas, untuk mereka yang kontak erat dengan pasien Covid-19, baiknya juga melakukan isolasi mandiri selama 14 hari sejak kontak kasus dengan covid-19. Karena masa inkubasi dari virus ini bisa  mencapai 14 hari. “Pemeriksaan PCR di akhir isolasi mandiri tidak perlu dilakukan hanya bikin stress,” tambah dr. Erlina.

Bagi mereka yang harus melakukan isolasi mandiri di rumah, baiknya membuat daftar kegiatan harian. dr. Erlina mencontohkan, daftar tersebut bisa berupa kegiatan berjemur, makan, membersihkan kamar dan alat makan, minum obat atau suplemen yang dibutuhkan. 

Tidak hanya itu, keluarga pasien juga perlu diedukasi untuk tetap memakai masker, menghibur yg sakit, berikan dukungan maksimal, ingatkan minum obat, dan melapor ke dokter. Harus mengetahui kapan saatnya melapor ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sebaiknya untuk yang melakukan isolasi mandiri di rumah harus menyediakan oxymeter atau alat pengukur saturasi dan termometer. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat adalah:

  1. Jika suhu tubuh naik di atas 38 derajat, lakukan pengukuran suhu 2x sehari

  2. Mengalami sesak nafas, dihitung berapa tarikan nafas dalam semenit. Kalau lebih dari 24x itu sesak

  3. Mengukur saturasi, kurang dari 94 

Orang yang melakukan isolasi mandiri selain menjaga tubuh agar tetap sehat, juga harus menjaga jiwa tetap sehat. Gunakan waktu isolasi untuk banyak berdoa dan menjalin kpneksi dengan komunitas agama masing-masing. Anggaplah isolasi mandiri sebagai me time, baca buku, menulis jurnal, punya waktu ekstra untuk tidur. “Kurangi paparan dengan sosial media dan berita mengenai covid-19,” himbau dr. Erlina.

Pastikan untuk tetap melakukan olahraga teratur selama proses isolasi mandiri. Tidur yang cukup dan lengkapi nutrisi yang cukup. Jadilah agen edukasi untuk keluarga dan lingkungan sekitar, seperti cuci tangan lebih rajin, segera lakukan vaksinasi dan jangan percaya hoax dan sebar hoax. (Dewi Retno untuk Geriatri.id)

Artikel Lainnya
Tags
Covid-19
Isolasi Mandiri
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
PDPI
Erlina Burhan