Kembali
×
Isolasi Mandiri dan Mengukur Tingkat Keparahan Covid-19
04 Juli 2021 06:00 WIB

Geriatri.id--Covid-19 saat ini masih menjadi penyakit yang paling ramai diperbincangkan. Selain munculnya varian baru dengan tingkat penyebaran cepat, penuhnya rumah sakit juga menjadi masalah sendiri.

Perhimpunan dokter paru Indonesia (PDPI) mengadakan webinar dengan tema Isolasi Mandiri Pasien COVID-19 untuk Awam. Hadir sebagai pembicara adalah dr. Heidy Agustin SpP (K) membahas gejala covid-19 dan kapan harus isolasi mandiri.

Penyakit covid ini telah diteliti oleh PDPI, dan didapati gejala penyakit covid beragam. Gejala respirasi biasanya mencapaii 73%, sementara 4% diantaranya tidak bergejala. Di Indonesia, gejala yang paling sering adalah batuk, sesak nafas, demam, kelelahan, muntah dan anosmia. 

Pentingnya berhati-hati terhadap Covid-19 adalah karena seringnya tanpa gejala. Biasanya jika dilakukan foto thorax baru akan terlihat kelainan. Yang harus menjadi perhatian lagi adalah mereka yang memiliki komorbiditas, seperti diabetes, hipertensi dan gangguan pernafasan. 

Infeksi Covid ini memiliki tingkat atau klasifikasi derajat keparahan, seperti, tanpa gejala, derajat ringan, sedang, berat dan kritis. Yang dimaksud dengan orang tanpa gejala adalah mereka yang hasil tes PCR nya positif namun tidak menunjukkan gejala apapun. Sementara ada juga klasifikasi ringan, di mana pasien umumnya tanpa bukti pneumonia atau hypoxia. 

Sedangkan untuk derajat sedang pada dewasa dan remaja ada tanda klinis pneumonia tidak berat dan saturasi lebih dari 93%. Pada penderita dengan derajat berat ada pneumonia, nafas lebih dari 30x/menit dan saturasi kurang dari 93%. Adapun untuk derajat keparahan kritis ditandai dengan putih seluruhnya paru. Ini berarti virus sangat banyak.

Jika derajat atau tingkat keparahan sudah diketahui, maka bisa diputuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Tes PCR juga diperlukan di akhir masa isolasi namun hanya untuk mereka yang memiliki derajat keparahan sedang dan berat. Untuk mereka yang tanpa gejala dan ringan tidak perlu tes swab PCR.

Selama melakukan isolasi mandiri di rumah banyak hal yang harus diperhatikan yaitu penggunaan masker di dalam rumah, baik si pasien maupun keluarga. Rajin mencuci tangan, mencuci sendiri alat-alat makan dan minum. Pastikan untuk selalu mengukur suhu tubuh 2x sehari. “Jika terjadi peningkatan suhu di atas 38 derajat harus lapor petugas,” ujar dr. Heidy.

Hal penting lainnya jika ingin melakukan isolasi mandiri di rumah adalah lingkungan rumah. Pastikan ada ventilasi udara yang cukup dan cahaya yang masuk tempat isolasi. Obat-obatan sesuai anjuran dokter dan Vitamin serta obat pendukung lainnya. “Bagi keluarga yang kontak erat periksakan diri, swab antigen, gunakan masker dan jaga jarak,” imbuhnya.  (Dewi Retno untuk Geriatri.id)

Artikel Lainnya
Tags
Covid-19
Vaksinasi
Heidy Agustin
Isolasi Mandiri
Perhimpunan dokter paru Indonesia