Kembali
×
Layanan Telemedisin untuk Pasien Isolasi Mandiri
03 Juli 2021 07:30 WIB

Geriatri.id--Pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang tidak bergejala dan bergejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di rumah maupun karantina terpusat di pusat isolasi. Hal ini merupakan upaya untuk mengurangi beban pelayanan di RS, sehingga bisa diarahkan untuk pasien bergejala sedang-berat.

Kementerian Kesehatan akan menyiapkan layanan konsultasi kesehatan secara virtual bagi masyarakat sehingga bisa diakses di mana pun, kapan pun dan siapa pun atau telemedisin. Dengan telemedisin, pasien isolasi mandiri tetap dapat mengakses layanan kesehatan.

“RS bisa melakukan layanan telemedisin untuk orang-orang yang isolasi mandiri, termasuk pemberian paket obatnya, sehingga orang yang terkena (positif), dia tidak bisa akses ke RS tetap bisa dilayani oleh dokter dan akan diberikan obat,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers terkait PPKM Darurat pada Kamis (1/7/2021).

Melalui layanan ini, pasien juga dapat melakukan skrining awal untuk gejala sedang/berat. Nantinya dokter yang akan mengidentifikasi berdasarkan hasil konsultasi, untuk selanjutnya dilakukan penanganan berdasarkan kondisi pasien.

“Dokter nanti akan cek statusnya, sehingga kita bisa arahkan kapan yang bersangkutan harus masuk rumah sakit atau tidak,” katanya.

Dengan hadirnya layanan ini, diharapkan dapat mengurangi beban layanan RS yang terus meningkat setiap harinya, sebab pasien bisa melakukan konsultasi kesehatan jarak jauh tanpa perlu berkunjung ke RS.

Menkes menambahkan, selain penyediaan layanan telemedisin, pemerintah berupaya menambah kapasitas fasilitas isolasi terpusat untuk mengantisipasi masyarakat yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumah.

Pelayanan kesehatan jarak jauh dianggap menjadi solusi di tengah pandemi Covid-19 ini. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Tono Djuwantono, dr., SpOG(K), M.Kes., telemedisin menjadi alternatif agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dari tenaga medis tanpa harus mendatangi rumah sakit.

“Telemedisin memang tidak bisa menggantikan tatap muka. Akan tetapi pada keadaan tertentu seperti jarak jauh, untuk kasus tertentu banyak sekali yang sudah menggunakan telemedisin,” kata Prof. Tono dalam diskusi “Satu Jam Berbincang Ilmu: Telemedicine” yang digelar Dewan Profesor Unpad, Sabtu (26/6/2021).

Prof. Tono menjelaskan, pada era disrupsi, ilmu kedokteran perlu mengalami transformasi digital. Bidang kedokteran dituntut bisa beradaptasi dan integrasi setidaknya pada tiga sektor, yaitu mahadata  (big data), bioteknologi, serta  medical information and communication technology (medical ICT).

Guru Besar bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi tersebut menuturkan, perkembangan telemedisin di tingkat internasional sudah semakin baik. Salah satunya mampu mendiagnosis 95 persen jenis kanker tertentu hanya berdasarkan dari hasil wawancara.

“Telemedisin salah satu yang perlu kita gali. Kita perlu big data kesehatan masyarakat Indonesia, lalu kita olah aritmatikanya, dan teman-teman Statistik bisa membuat model dan ramalkan apa masalahnya,” kata Prof. Tono. (ymr | Foto Pixabay)

Artikel Lainnya
Tags
Covid-19
Kementerian Kesehatan
Menteri Kesehatan
Budi Gunadi Sadikin
Telemedisin
Tono Djuwantono
Unpad